Istiqomah Di Atas Manhaj Salaful Ummah Bagian 2 1 April 2012 Ustadz Usamah Mahri

Download Kajian Manhaj: Istiqomah Di Atas Manhaj Salaful Ummah Bagian 2
Bersama: Ustadz Usamah Faishal Mahri hafizhahullah (dari Malang Jawa Timur)
Pengasuh Ma’had as-Sunnah Malang
Tempat: Masjid Ma’had al-Anshar, Wonosalam Ngaglik, Sleman
Ahad, 1 April 2012 / 9 Jumadil Ula 1433 H
Jam: 10.30 – selesai (ba’da zhuhur)

Transkrip Ringkasan Isi Materi:

Sesi 1

  • Istiqomah merupakan perkara yang sangat berharga, sangat pernting dalam agama seseorang.
  • Untuk istiqomah, tidak hanya sekedar tahu kebenaran, tapi juga mengamalkan dan mengajarkannya, tahu kejelekan, menjauhinya dan memeranginya.
  • Istiqomah diperintahkan Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Istiqomah menuntut seseorang untuk keluar dari apa yang dicontohkan dan digariskan oleh para ulama salaf.

MEMBANTAH PENYIMPANGAN DAN KESALAHAN ORANG YANG MENYALAHI AL-HAQ

  • Perkataan Yahya bin Ma’in tentang membela sunnah lebih utama dari jihad fi sabilillah.
  • Ucapan Imam ad-Darimi dalam membantah Jahmiyah yang menyelisihi al-kitab dan sunnah, untuk memperingatkan orang yang lalai atas diri, keluarga dan anak mereka, untuk membela agama Allah mengharap apa yang ada di sisi-Nya.
  • Disini ada pentingnya untuk membantah orang yang menyelisihi manhaj salaf, agar tak tertipu orang-orang menanggap mereka itu orang yang baik, padahal mereka tersesat dari shiroth al-mustaqim.
  • Ucapan Syaikhul Islam: WAJIB menjelaskan keadaan hakekat ahli bid’ah dan orang yang membawa keyakinan menyilisihi al-qur’an dan as-sunnah atau beribadah menyelisihi keduanya, dan mentahzhir mereka. Ini disepakati kaum muslimin.
  • Ucapan Imam Ahmad tentang lebih beliau sukai orang yang menjelaskan kepada ummat bicara ahli bid’ah daripada orang yang tekun ibadah. Sebab ini manfaatnya disarakan banyak orang.
  • Membersihkan jalan dan syariat Allah, itu merupakan FARDHU KIFAYAH, lebih afdhal dari jihad. Kalau tidak ada yang demikian, akan rusak agama Allah dan lebih parah kerusakannya daripada akibat penjajahan fisik.
  • Ucapan Syaikhul Islam: Segala puji bagi Allah ada di umat ini orang yang paham dengan perkataan ahli bathil dan membantahnya.
  • Ucapan Abu Bakr bin Iyasy tentang ciri ahlussunnah: yaitu jika hawa nafsu, kebid’ahan itu disebut-sebut dijelaskan kejelekannya, dia tidak marah, tidak tersinggung.

Jika ada orang yang merasa canggung dan tak senang kalau mereka dibicarakan atau diangkat, ditahdzir, perlu dipertanyakan apa betul dia sunni?! Aneh?!!

  • Ucapan Ibnul Qayyim tentang para ulama ahlussunnah yang mereka telah menghidupkan banyak orang-orang yang mati hatinya korban Iblis, memberi petunjuk orang jahil, membombardir ahli bid’ah sebagai jihad di jalan Allah, mengharap keridhaan Allah.
  • Ucapan Ibnul Qayyim tentag kerasnya pengingkaran salaf terhadap bid’ah dibanding terhadap fakhisyah dyl.
  • Ucapan beliau juga tentang hak Allah atas para hamba untuk membantah orang yang mencela al-kitab dan sunnah, dan tidak ada iman setelah itu.

Kewajiban kita atas haq Allah lebih besar dari hak manusia -syaikh fulan- yang -kata dia- baik akhlaknya … Dia tidak siap.

  • Ibnu Muflih: WAJIB mengingkari bid’ah dan iqomatul hujjah baik diterima atau tidak oleh pelakunya.

Tidak seperti hizbi surruri dan pengekoranya yang berkata: “Kalau dibantah tak positif yang dibantah, maka bantahan itu tidak perlu, apalagi ahlussunnah minoritas, tapi hanya gunakan ta’lif.” Mereka bawakan perkataan Syaikhul Islam tentang ta’lif untuk larut, keluar bersama hizbiyyin.

  • Syaikh Rabi berkata tentang orang yang seperti ini.

Disadari atau tidak oleh orangnya, ini yang terjadi. Seakan lisanul hal orang ini berkata kepada ahli bathil: “Kalian tenang, biar kami yang hadapi.” Di sisi lain dia berhadapan dengan saudaranya dengan terang-terangan sehingga ahlu bid’ah bersenang-senang.

  • Syaikhul Islam seluruh hidupnya untuk berjihad membela al-haq dan membantah ahli bathil.
  • Syaikh Rabi: Orang yang memperingatkan dari penyimpangan itu minimalnya untuk memberi maslahat pada diri sendiri, ini yang lebih penting.

Lalu siapa yang ajak larut, bercampur dengan mereka, kau undang mereka, kau jenguk. Demi Allah, Syaikhul Islam tak berkata demikian. Yang ini makan bersama, dakwah bersama. Penjelasan siapa ini? Manhaj salaf akan musnah dengan ini.

Ciri ahlussunnah itu adalah ilmu dan tamayyuz. Dalam hal ini mereka semangat. Sedang yang lain hanya koar-koar saja, panas-panasan kata, tunjukkan sikap, sedang dia paling jauh dari majlis ilmu, bahkan dari majlis orang yang dia perjuangkan, ghaib, tak ada semangat untuk menghilangkan kejahilan pada dirinya. Dia bilang yang penting dia salafi, tak ada pembenahan aqidah, akhlaq, ibadah. Sebab dia jauh dari majlis ahlil ilmi. Sehingga dia gampang mengancam, memukul saudaranya ahlussunnah. Mana akhlaqnya?! Gedor-gedor rumah orang tengah malam, sampai Syaikhul Islam atau ulama lain tak seperti itu ketika membantah ahli bid’ah. Yang semacam ini tak lama akan ditampakkan belangnya, kalau dia tak berbenah diri dan taubat kepada Allah.

  • Tidak merasa kecil hati dengan sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran. Dan ucapan-ucapan salaf tentang itu.
  • Terkait fitnah-fitnah yang ada, maka cintailah ahlussunnah dan ulama sunnah dan ikuti mereka.
  • MENJADI ORANG PENYERU KEPADA KEBENARAN itu butuh kekuatan dan keikhlasan. Jika tidak ikhlas akan tidak diberi taufik, jika tidak kuat minimal dengan hatinya dia merasakan pedih dan mengingkari dengan hatinya. Orang yang tidak kuat dan kurang ikhlasnya lebih banyak mudharatnya daripada maslahat yang diharapkan.

Dia paham tahu jelas batil sesatnya. Saudaranya yang lain sudah mentahdzir orang ini. Dia lemah untuk menyuarakan kebenaran, tapi dia bela orang ini. Dan anehnya dia siap dan kuat untuk menghadapi orang yang menyuarakan kebenaran dan menantang kebathilan. Dia mencari berbagai macam alasan untuk itu.

  • Sedang para salaf saling mendukung dalam menyuarakan kebenaran, membenci dan memusuhi kebathilan.

Ini sikap ahlul haq sesama mereka, didukung dibela bukan digembosi digerogoti dicari-cari kesalahannya. Dia bilang “Tak ada ulama yang membuat majlis khusus bantah mereka, jangan buat ring untuk bantah mereka.” Kalau benar tak ada ulama yang buat majlis khusus, apakah benar sikap kau terhadap saudaramu yang membantahnya? Apa tendensi mereka ini?! hanya Allah yang tahu.

  • Syaikh Muqbil buat majlis khusus bantah berbagai tokoh sesat, demikian juga Syaikh Rabi, Syaikh Muhammad dan Syaikh Ubaid.

Orang belajar di IAIN (UIN) dibela olehnya, padahal pelakunya membanggakan diri. Di website IAIN ada data seperti itu. Giliran sama saudaranya yang membantah kekufuran didalamnya (filsafat, ilmu kalam), kau bela orang itu. Mungkin kau cuma bilang “Tidak membela cuma meluruskan”. Tapi apa dampaknya? Orang yang punya otak bisa paham. Paling tidak kau kecewa ada seorang muslim yang pernah duduk dengan ulama sunnah 4 tahun di sana, tega-teganya dia dudu di  kursi S2 IAIN (UIN), balajar filsafat dengan nilai A, berarti dia paham betul. Tapi kita lihat apa pengaruh dalam kalbunya. Seandainya dia punya kebencian terhadap ahli bathil. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. 

Sesi II

  • Termasuk istiqomah di atas manhaj salaful ummah: dia selalu benci dan bantah yang menyelisihi qur’an dan sunnah dengan hujjah dan ilmu.
  • Ucapan Ibnul Qayyim tentang orang yang ditokohkan oleh orang awam semakin minim agamanya, sebab semua itu dia dapat dengan diam terhadap kemungkaran yang ada pada ummat. Tak cemburu, dia tanggapi dingin. Ini setan bisu.
  • Atsar yang dibawakan Imam Ahmad tentang perintah untuk lebih dulu mengadzab seorang ahli ibadah yang tidak pernah merah padam mukanya karena membela agama Allah sehari saja daripada yang lain.
  • Atsar tentang orang yang tidak berwala dengan wali-wali Allah dan tidak memusuhi musuh-musuh Allah.
  • Membiarkan penyimpangan si dai akan membiarkan bertambah dosanya.
  • Tak semua orang yang menampakkan akhlak yang bagus dan kesholehan bisa diambil ilmunya.

Sementara dia selalu bersama ahlul bathil di negeri mereka, di acara mereka, di daurah mereka, dijadikan ikon. Bagaimana kita bisa mempercayakan agama kepadanya.

  • Jika ada bid’ah pada seorang dan bisa berdampak pada orang lain, harus diubah.
  • Perkataan Syaikh Rabi tentang orang yang berkata: “Bukan zaman sekarang ini seperti masa Umar bin Khattab dan ulama yang tegas terhadap ahli bid’ah, nanti ahlussunnah semakin sulit.”

Tanya Jawab

  1. Bagaimana hukum membatalkan perjanjian kerja, sebab di tengah jalan ditemui ada kemaksiatan dan pelanggaran syariat?
  2. Apa ada kisah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menceritakan tentang seorang shahabat yang tak beradab lalu dilarang bermajlis?
  3. Bagaimana dengan ta’lif yang dimaksud Syaikhul Islam?
  4. Bagaimana menyikapi tetangga Jamilurrahman yang tahu Ihyaut Turats, tapi dia katanya mau belajar saja, sedang mengurusi syubhat itu urusan ulama, dan kitab yang dipelajari juga sama?
  5. Bagaimana dengan pihak-pihak yang mengingkari jam’ul kalimah dan anggap itu perbuatan hizbiy?
  6. Bagaimana dengan orang yang memvonis orang yang mempraktekkan hajr pada orang tertentu dianggap sebagai muqollid?

Link Download:

Sesi 1 MP3 18,3 MB durasi 146 menit: disini.

Sesi 2 MP3 6,5 MB durasi 38 menit: disini.

Sesi Tanya Jawab MP3 3,6 MB durasi 20 menit: disini.

Menyusul yang lain Insya Allah.

Tinggalkan Balasan